Kamis, 24 Maret 2016

TIPOLOGI PARTAI BERDASARKAN FUNGSINYA DALAM MASYARAKAT

Tipologi berdasarkan fungsi partai dalam masyarakat menawarkan sebuah perbedaan yang menarik.  Tipologi ini dapat memberikan pernyataan yang sangat strategis mengenai perilaku yang sudah dapat diperkirakan dalam situasi yang kritis, oleh karena itu memiliki arti penting bagi para pembuat strategi. Berdasarkan  tipologinya,  partai bisa dibedakan antara :


1.      PARTAI PELAYAN WARGA ATAU PARTAI JASA

Partai ini berusaha untuk memberikan bantuan kepada warga, untuk dapat menyesuaikan diri/menemukan tempatnya di masyarakat.  Partai ini dapat dikatakan tidak terlalu politis, tidak terlalu ditandai dengan program-program, namun sangat berguna dalam hubungannya dengan manusia.  Partai ini memelihara hubungan yang dekat dengan para pemilihnya.  Di tingkat lokal, partai ini juga menawarkan diri sebagai pusat penyediaan jasa bagi masyarakat dan tempat yang akan dituju apabila warga membutuhkan sesuatu.  Daya tarik partai ini adalah karena mereka memberikan jasa kepada warga secara Cuma-Cuma, dan karena itu warga memberikan suaranya kepada mereka.  Organisasi partai ini ditandai oleh berdirinya perkumpulan-perkumpulan yang kuat.  Bagaimanapun, tingkatan yang lebih tinggi juga dibutuhkan untuk pengadaan jasa ini. 

Tipe ini terutama muncul sebagai partai blok tertentu dalam sistem sosialis, tanpa memiliki pengaruh politik yang besar tapi dapat menekan penderitaan anggotanya dan para pemilihnya melalui pemberian berbagai keuntungan.
Tipe partai ini juga didapati di negara-negara dimana sistem sosialis tidak terlalu tampak/menonjol.  Biasanya partai ini menawarkan jasa-jasa sosial, namun juga menyediakan jasa-jasa lain seperti bidang kedokteran hingga mendirikan rumah sakit partai.

    2.  PARTAI PROYEK ATAU PARTAI PEMECAH MASALAH

Partai jenis ini dapat dikenali melalui perannya dalam memecahkan isu tunggal atau melalui kontribusinya terhadap proyek/program tunggal.  Partai ini politis pada satu titik (merupakan one-issue-partei) dan berorientasi ke masa depan.  Di depan umum, partai ini mempresentasikan proyek-proyeknya secara jelas termasuk dalam penyelesaian masalah.  Daya tarik partai ini bagi para pemilihnya adalah karena warga menunjukkan adanya identifikasi emosional antara mereka dengan masalah-masalah tertentu.  Karena itu mereka melibatkan dirinya dan memberikan suara mereka kepada partai ini.  organisasi partai ini sendiri tergantung pada cara penyajian dan penyampaian ide-ide proyeknya di tingkat lokal.  Perkumpulan-perkumpulan basis yang kuat merupakan transformator ide-ide mereka, atau sebagai pihak yang merealisasikan program mereka.

Ciri khas partai ini adalah munculnya gerakan ekologis sertai partai-partai lain yang dalam politik mengkhususkan diri atau menitik beratkan perhatiannya pada bidang yang satu ini.


3.PARTAI MANAJEMEN POLITIK ATAU PARTAI FRAKSI/PEMERINTAH

Tujuan partai ini adalah manajemen dan penanggulangan krisis dalam pemerintahan pada tingkat yang lebih tinggi.  Partai ini mencitakan adanya suatu penyelasaian terhadap masalah yang sulit dan berbelit-belit.  Citra yang dimiliki oleh partai ini adalah sebagai pencipta ( maker yang dianggap dapat mewujudkan semuanya).  Partai ini melakukan apa yan harus dilakukan, terlepas dari bagaimana kalangan pemilihnya menilai aksi-aksi mereka.  Partai ini sangat berorientasi pada media dan dapat menjamin kehadiran media melalui anggotanya yang duduk dalam pemerintahan.  Hubungan dengan para pemilih terjalin karena partai memberikan kepercayaan kepada pemilihnya untuk mengatasi berbagai masalah dan krisis yang terjadi.  Pemilih memberikan suaranya agar dimungkinkan adanya keterwakilan tanggung jawab pribadi pada partai ini.  organisasi ini sangat berorientasi ke pusat (sentralisasi).  Keputusan dimbil dengan cepat, kemudian disahkan oleh basis atau tingkatan partai yang paling bawah. 


4. PARTAI PROGRAM ATAU PARTAI PRINSIP

Tujuan partai terletak dalam penyelesaian masalah yang berlandaskan nilai-nilai tertentu, bersifat menyeluruh dan rumit, serta menyediakan berbagai kemungkinan/alterntif.  Partai ini dikenal sebagai partai yang konsisten, sangat berorientasikan pada nilai-nilai atau norma, dapat diandalkan dan terprogram.  Partai ini menyediakan berbagai program dan mengarahkan sasarannya pada identifikasi nilai kelompok pemilih tertentu.  Apabila identifikasi ini muncul, maka ia mengarah pada bertambahnya suara atau dukungan pada partai.  Partai semacam ini ditandai oleh demokrasi internal (demokrasi di dalam partai itu sendiri) yang sangat kuat.  Kelompok penguasa yang dominan bisa dikatakan tidak ada.  Partai ini sangat lambat dalam mengambil keputusan. 


5. GERAKAN ATAU ONE PERSON SHOW

Tujuan partai adalah mengambil alih kekuasaan atau pengaruh.  Untuk itu partai membutuhkan seorang pimpinan yang berkharisma tinggi atau caudillo (istilah ini pada mulanya berarti kepala suku.  Sejak abad ke-19, istilah ini digunakan bagi seorang pengusa politik di Amerika Latin. bisa juga berarti diktaktor.  Caudillo merupakan gelar resmi pimpinan pemerintahan Spanyol, Franco Bahamonde).  Ia bertanggung-jawab menciftakan rasa kepercayaan dan ketergantungan para pemilih.  Gerakan ini menengahkan rasa kebersamaan, rasa aman, dan perlindungan.  Organisasi partai dapat dikatakan hampir tidak ada.  Menjelang pemilu biasanya dibentuk suatu organisasi ad-hoc serta “mesin-mesin tempur” pemilu.


Demikianlah tipologi partai politik berdasarkan fungsinya dalam masyarakat yang mempengaruhi program, kepemimpinan dan pengambilan keputusan.

Sumber : Strategi Politik.  Schroder, Peter. Friedrich-Naumann-Stiftung.  2004




Rabu, 23 Maret 2016

Sang Profesor Membangun Daerah

 
Adalah Prof. DR. Ir. H. M. Nurdin Abdullah, M.Agr, seorang bupati di Bantaeng, sebuah kabupaten bagian selatan yang berjarak 120 km dari pusat kota Makassar. Pria kelahiran Pare-Pare, 7 Feb 1963, ini selalu menunjukkan kesungguhannya jika menghadapi suatu masalah. Ia berharap, camat, dan lurah yg menjadi mitranya melayani masyarakat bisa mencontoh hal itu.
 
Sejak lepas shalat subuh, warga dapat dgn mudah bertemu Bupatinya tanpa protokoler yg rumit. Bahkan dgn bebasnya masyarakat dapat mencurahkan segala keluh kesah mengenai berbagai permasalahan. Di rumah dinas dan rumah pribadi Nurdin, siapa pun bebas masuk tanpa ada hambatan, baik untuk mengadu atau sekadar mengusulkan program. Saat menerima pengaduan warganya, bupati bergelar profesor Ilmu Kehutanan Universitas Hasanudin ini sesegera mungkin menyelesaikannya dgn melibatkan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait.

“Selama 6 tahun ini, sudah banyak pejabat yg saya copot, seperti Kepala Badan Kepegawaian Daerah sudah berganti 4 kali, wakil bupati saya itu beberapa kali ikut lelang jabatan”.

Ketika pertama kali memenangi Pemilukada Bantaeng 2008 lalu, mantan CEO sejumlah perusahaan di Jepang ini bergerak cepat. Ia blusukan hingga ke kampung2 menemui warga. Tak mengherankan bila mulai dari anak2 sampai orang tua sangat dekat dan bersahabat dgn pemimpin daerahnya itu. Ia senantiasa ingin mencari tahu akar masalah langsung ke sumbernya. Jika sudah tahu penyebabnya, dgn cepat ia mengambil tindakan. Bekerja dgn fokus, itulah kunci keberhasilannya.

Seluruh kepala dinas dilarang memakai sepatu mahal karena beliau tidak ingin pejabatnya tampil mewah sekaligus sayang jika sepatunya kena lumpur karena mahal. Jadi jangan harap anda melihat pejabat di Bantaeng memakai sepatu pantofel yg mengkilat. Mobil dinas yg dipakai Kadis hanya Toyota Avanza, sementara beliau sendiri menggunakan Toyota Innova. Untuk keperluan di luar dinas, Beliau menggunakan mobil pribadinya Crown th 2000.

Bupati yg menjunjung tinggi filosofi Jepang pantang berbohong, disiplin, sesuai kata dan perbuatan ini juga berhasil membenahi sistem pelayanan kesehatan warganya. Warga Bantaeng paling dimanjakan untuk pelayanan kesehatan. Jika ada warga yg sakit, cukup menelpon Brigade Siaga Bencana (BSB ) di 113 atau 0413-22724 / 0413-21408 maka dalam waktu kurang dari 20 menit dokter serta perawat bersama ambulans gratis akan segera menjemput pasien di rumahnya. Pasukan ini mampu menurunkan angka kematian ibu melahirkan menjadi NOL dari sebelumnya 12/100.000 kematian per tahun. BSB siaga 24 jam dgn 20 dokter, 16 perawat dan 8 unit mobil ambulans berfasilitas emergency. Selain itu, BSB Bantaeng juga menyiagakan 11 unit mobil pemadam kebakaran berstandar Internasional, yg kemampuannya melebihi armada yg dimiliki Dinas Damkar Makassar. Bahkan, mobil ambulans milik Pemkab Bantaeng kerap dipinjamkan di kabupaten tetangga bilamana ada pasien yg akan dirujuk ke Makassar. Selain itu pula, Nurdin yg menguasai 3 bahasa asing, Inggris, Jepang dan Cina ini berhasil meyakinkan pemerintah pusat untuk menggelontorkan dana sekitar Rp 120 miliar untuk membangun gedung rumah sakit 8 lantai berstandar internasional.

Networking-nya yg terjaga baik, terutama dgn Jepang, membuat berbagai bantuan dgn mudah didapatnya. Ambulans dan mobil pemadam kebakaran adalah di antaranya. 8 unit ambulans dan Damkar, semuanya diperoleh dari Jepang. Sistem pelayanan di BSB, diadopsinya dari Jepang meski tidak seluruhnya. Berkat mapannya pelayanan kesehatan di daerah berjuluk Butta Toa atau Tanah Tua ini, BSB Bantaeng masuk nominator United Nations Public Service Award, yg dibawahi PBB. BSB Bantaeng sengaja ditunjuk Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara mewakili Indonesia. Penataan Kota Bantaeng yg dulu terkenal dgn semak belukar kini menjadi kabupaten dgn “sejuta” tempat wisata indah. Bahkan Belia bercita-cita menjadikan Bantaeng “Singapura” di Indonesia. Karena itu sebagian besar pusat pemerintahan dan fasilitas pelayanan publik dipindahkan di daerah pantai.

Dahulu, Bantaeng hanya dipandang sebelah mata dibanding 23 kabupaten di Sulsel. Orang-orang yang akan menuju 6 kabupaten di sisi selatan Sulsel ini hanya mampir sejenak atau bahkan melintas begitu saja. Sepertinya tak ada hal menarik untuk disinggahi. Namun, sejak 2009, Bantaeng menjadi daerah yg cukup menonjol. Bantaeng menjadi destinasi, bukan lagi tempat transit. Investor kelas dunia berdatangan ke kabupaten yang jaraknya 120 kilometer dari Makassar ini.

Penyebabnya, kini Bantaeng memiliki sejumlah ikon yg membuatnya menonjol dibanding daerah2 lain di Sulsel. Contohnya, tak banyak yg menyangka jika berbagai tumbuhan seperti stroberi, apel, durian bisa tumbuh subur di pegunungan Bantaeng. Juga tak pernah terbayangkan jika di daerah ini bisa menjadi penghasil benih unggul yg menaikkan tingkat ekonomi masyarakatnya terutama petani.

Daerah ini pun tumbuh dgn berbagai industri pengolahan. Di bidang industri pengolahan hasil pertanian, Bantaeng sukses merintis pengolahan hasil pangan sekaligus pengepakannya. Hasil-hasilnya pun kini sudah diekspor ke berbagai negara, khususnya Jepang dan Cina. Selain itu, industri pengalengan hasil laut pun berkembang di daerah ini.

Bangkitnya industri di daerah ini cukup mengagumkan karena Bantaeng bukan daerah tambang yg bisa dgn cepat mengundang investor. Bantaeng adalah daerah pertanian sehingga butuh waktu cukup lama untuk bisa meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD).

Namun, hal itu tak menjadi masalah bagi Bupati Nurdin Abdullah. Ia berhasil mendatangkan investor asing, tercatat dari Jepang, Cina, dan Korea.
Dengan perubahan dan pembangunan yg terus bergerak itu, tak mengherankan jika banyak daerah yg berkaca pada daerah ini. Banteng menjadi “laboratorium” pilihan 104 kabupaten kota di Indonesia yg melakukan studi banding di daerah itu selama 2014.

Meski tak menutup peluang masuknya investor asing, di tangan Nurdin, pembangunan di Bantaeng senantiasa mengutamakan kearifan lokal. Guru Besar Universitas Hasanuddin ini belum berpikir untuk membangun mal di Bantaeng. “Biarkan perekonomian masyarakat dulu yg tumbuh, baru kita bangun yg lain,” ujar alumni Universitas Kyushu, Jepang, ini.

Sebagai orang berlatar belakang pertanian, tekadnya bulat ingin meningkatkan kesejahteraan petani. Menurutnya, jika dulu petani jagung menanam jagung dan menjual jagung, sekarang petani jagung tak hanya menjual jagung, tapi juga benihnya. Penjualan benih itu mendongkrak penghasilan petani menjadi berlipat-lipat. Ia mencontohkan, jika sekilo jagung dijual dengan harga Rp 2.000, dgn menjual benih, penghasilan yg diperoleh bisa Rp 50 ribu per kilo.
Saat ini, produksi benih yg dikembangkan masyarakat Bantaeng ada berbagai jenis. Jumlahnya mencapai lima ton per tahun. “Dan semuanya adalah benih unggulan yg sudah melalui uji coba dan penelitian terpadu,” ujarnya.

Penanganan banjir di Bantaeng adalah salah satu masalah yg sukses dipecahkannya. Di masa putaran akhir kampanye sebelum ia terpilih sebagai bupati, Nurdin mendapati rumah jabatan bupati terendam banjir. Setelah terpilih, ia menargetkan, banjir yg menghantui warga Bantaeng setiap tahun harus ia selesaikan dalam waktu dua tahun. Untuk melihat langsung permasalahan tsb, Nurdin Abdullah turun langsung mencari titik air penyebab banjir di saat hujan deras menyusuri anak sungai sampai sekitar 6 jam. Survei dan kajian yg melibatkan pakar dari berbagai kampus melahirkan solusi berupa pembangunan cek dam seluas 5 Ha. Pembangunan cek dam itu dipantaunya langsung. Maka, ketika hujan turun, Nurdin pasti tak berada di rumah. Ia memilih memantau kondisi di lapangan tanpa peduli meski tengah malam sekalipun. Kehadiran cek dam memang berhasil mengatasi banjir di wilayah itu sampai saat ini. Bahkan, Cek dam ini juga menjadi sumber air baku PDAM Bantaeng dan sekaligus irigasi untuk pertanian dan perkebunan warga yg sebelumnya hanya lahan tadah hujan.

Yang penting baginya, sistem harus diciptakan dan tertata bagus. Sebab, jika sistem sudah bagus, siapa pun yg akan memimpin Bantaeng kelak tinggal meneruskannya. Hal itulah yg dirintisnya sejak awal hingga tahun kedua memimpin Bantaeng. “Setahun dua tahun boleh bergantung pada bupati, tapi tahun ketiga kita harus bergantung pada sistem yg kuat,” katanya.

“Kami normalisasi sungai dan drainase lalu membangun cek dam, membangkitkan petani dgn ketersediaan pupuk, benih unggulan dan irigasi pertanian di daerah-daerah terisolir dan menggeliatkan perekonomian Bantaeng dgn membuka pintu masuk bagi para investor,” ujar Nurdin
Mantan Presiden Direktur PT Maruki Internasional Indonesia ini membuka kesempatan bagi para investor kelas dunia untuk berbisnis di Bantaeng. Nurdin menyiapkan lahan sekitar 1.000 hektar di daerah Pajjukukkang yg tuntas di th 2015 untuk pabrik smelter yg dibangun investor Jepang, Cina dan India. 2.000 hektar untuk relokasi industri dari Jepang. Bahkan rencananya akan dibangun sekolah mekanik Asia Pasifik kerjasama dgn Toyota serta BLK dgn standar internasional.

“Triliunan uang investor masuk ke Bantaeng tanpa ada pungutan sepeser pun. Kita menerapkan pelayanan one day service. Proses perizinan selesai dalam sehari tanpa pungutan. Investor kita jemput di bandara lalu kita antar sampai ke Bantaeng. Kta mengelola keuangan daerah secara terbuka dan transparan, buktinya tidak ada pejabat saya yg korupsi.”

Di tahun pertama kepemimpinannya, bupati berusia 50 tahun ini melakukan pembenahan dan peningkatan kapasitas aparat-aparatnya dgn menerapkan pola assesment dgn melibatkan Universitas Indonesia dan Lembaga Administrasi Negara (LAN) Jatinangor. Sistem lelang jabatan di kepemimpinan Nurdin sudah dilakukan sejak 2009, jauh lebih awal dibandingkan yg dilakukan Jokowi sebagai Gubernur DKI.

Di periode pertama, Nurdin berhasil duduk sebagai bupati dgn raihan suara 46 persen, meskipun tanpa kampanye yg meriah. Nurdin yg ‘pulang-kampung’ demi amanah almarhum ayahnya, berhasil mengungguli para kandidat yg sudah lama berkiprah di Bantaeng. Di periode kedua, tanpa kampanye dan atribut, Nurdin melenggang dgn meraih suara 84 persen dalam Pilkada 2013 silam.

Di kepemimpinan alumni fakultas pertanian Universitas Kyushu di Jepang ini, perekonomian Bantaeng tumbuh dari 5,3 persen menjadi 8,9 persen pertahun serta berhasil meningkatkan indeks pendapatan perkapita warga Bantaeng dari Rp 5 juta menjadi Rp 14,7 juta.

Nurdin berhasil memajukan kembali varietas sayuran, buah dan hasil2 perikanan, dgn konsep Agri-Marine Economy. Berkat kemajuan perekonomian di Bantaeng, terjadi arus balik warga Bantaeng yg merantau di luar, serta bertambahnya penduduk yg bermigrasi ke Bantaeng.

Selama 6 tahun kepemimpinannya, Bantaeng menyabet lebih dari 50 penghargaan tingkat nasional, termasuk 4 kali berturut-turut piala adipura yag sebelumnya tidak pernah didapatkan, 3 tahun berturut-turut meraih Otonomi Award dan berhasil memenangkan Innovative Government Award (IGA) th 2013 yg diadakan Kementerian Dalam Negeri.

Bagi Nurdin, ia tidak mau berorientasi pada piagam penghargaan semata, tanpa dibarengi karya nyata yg dirasakan warganya. Menurut Nurdin, berkat caranya memimpin Bantaeng dgn menggunakan hati, Bantaeng kemudian jadi terkenal dan jadi sering kedatangan tamu dari pemda di Indonesia untuk melakukan studi banding, termasuk pula sering diundang pemerintah Jepang dan China untuk melakukan benchmarking.

Berkat kepiawaiannya memimpin, nama Nurdin termasuk 19 tokoh alternatif oleh Komunike Bangsa Peduli Indonesia (KBPI) yg digagas pengusaha senior Sofjan Wanandi. Nama Nurdin dijadikan figur capres alternatif, sejajar dgn nama tokoh bereputasi seperti Jusuf Kalla, Khofifah Indar Parawansa, Chairul Tanjung, Walikota Bandung Ridwan Kamil, dan Walikota Surabaya Tri Rismaharini.

“Saya terkejut sekaligus senang dijadikan figur capres alternatif. Sebagai anak bangsa, saya siap untuk menyumbangkan pikiran dan tenaga untuk kemajuan bangsa. Namun saat ini saya masih fokus untuk memimpin Bantaeng. Tunggu mapan dulu daerah saya baru lompat ke pusat, saat ini masih dalam proses, bila masanya nanti akan tiba saya akan siap bila dibutuhkan,” tutup suami dari Listiaty Fachruddin ini. 

sumber :http://beritabroadcast.web.id/bupati-pertama-bergelar-profesor-ini-sukses-bikin-bantaeng-mentereng/

Belajar Kepemimpinan dari Sosok "Sang Jendral Besar"

 


Jenderal Sudirman. Dikenal sebagai salah satu pahlawan Indonesia, jasa-jasanya sangat dikenang dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Jenderal Besar Soedirman menurut Ejaan Soewandi dibaca Sudirman, Ia merupakan salah satu orang yang memperoleh pangkat bintang lima selain Soeharto dan A.H Nasution. Jenderal besar Indonesia ini lahir di Bodas Karangjati, Rembang, Purbalingga, 24 Januari 1916. Ayahnya bernama Karsid Kartawiuraji dan ibunya bernama Siyem. Namun ia lebih banyak tinggal bersama pamannya yang bernama Raden Cokrosunaryo setelah diadopsi. Ketika Sudirman pindah ke Cilacap di tahun 1916, ia bergabung dengan organisasi Islam Muhammadiyah dan menjadi siswa yang rajin serta aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler.
Kemampuannya dalam memimpin dan berorganisasi serta ketaatan dalam Islam menjadikan ia dihormati oleh masyarakat. Jenderal Sudirman merupakan salah satu tokoh besar di antara sedikit orang lainnya yang pernah dilahirkan oleh suatu revolusi. Saat usianya masih 31 tahun ia sudah menjadi seorang jenderal.

Meski menderita sakit paru-paru yang parah, ia tetap bergerilya melawan Belanda. Ia berlatar belakang seorang guru HIS Muhammadiyah di Cilacap dan giat di kepanduan Hizbul Wathan.

Profil dan Biografi Jendral Besar Sudirman
Ketika pendudukan Jepang, ia masuk tentara Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor yang begitu tamat pendidikan, langsung menjadi Komandan Batalyon di Kroya. Menjadi Panglima Divisi V/Banyumas sesudah TKR terbentuk, dan akhirnya terpilih menjadi Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia (Panglima TNI).

Ia merupakan Pahlawan Pembela Kemerdekaan yang tidak perduli pada keadaan dirinya sendiri demi mempertahankan Republik Indonesia yang dicintainya. Ia tercatat sebagai Panglima sekaligus Jenderal pertama dan termuda Republik ini.

Sudirman merupakan salah satu pejuang dan pemimpin teladan bangsa ini. Pribadinya teguh pada prinsip dan keyakinan, selalu mengedepankan kepentingan masyarakat banyak dan bangsa di atas kepentingan pribadinya. Ia selalu konsisten dan konsekuen dalam membela kepentingan tanah air, bangsa, dan negara.

Hal ini boleh dilihat ketika Agresi Militer II Belanda. Ia yang dalam keadaan lemah karena sakit tetap bertekad ikut terjun bergerilya walaupun harus ditandu. Dalam keadaan sakit, ia memimpin dan memberi semangat pada prajuritnya untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda. Itulah sebabnya kenapa ia disebutkan merupakan salah satu tokoh besar yang dilahirkan oleh revolusi negeri ini.

Sudirman yang dilahirkan di Bodas Karangjati, Purbalingga, 24 Januari 1916, ini memperoleh pendidikan formal dari Sekolah Taman Siswa, sebuah sekolah yang terkenal berjiwa nasional yang tinggi. Kemudian ia melanjut ke HIK (sekolah guru) Muhammadiyah, Solo tapi tidak sampai tamat.

Sudirman muda yang terkenal disiplin dan giat di organisasi Pramuka Hizbul Wathan ini kemudian menjadi guru di sekolah HIS Muhammadiyah di Cilacap. Kedisiplinan, jiwa pendidik dan kepanduan itulah kemudian bekal pribadinya hingga bisa menjadi pemimpin tertinggi Angkatan Perang.

Sementara pendidikan militer diawalinya dengan mengikuti pendidikan tentara Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor. Setelah selesai pendidikan, ia diangkat menjadi Komandan Batalyon di Kroya.

Ketika itu, pria yang memiliki sikap tegas ini sering memprotes tindakan tentara Jepang yang berbuat
sewenang-wenang dan bertindak kasar terhadap anak buahnya. Karena sikap tegasnya itu, suatu kali dirinya hampir saja dibunuh oleh tentara Jepang.

Setelah Indonesia merdeka, dalam suatu pertempuran dengan pasukan Jepang, ia berhasil merebut senjata pasukan Jepang di Banyumas. Itulah jasa pertamanya sebagai tentara pasca kemerdekaan Indonesia. Sesudah Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terbentuk, ia kemudian diangkat menjadi Panglima Divisi V/Banyumas dengan pangkat Kolonel.

Dan melalui Konferensi TKR tanggal 2 Nopember 1945, ia terpilih menjadi Panglima Besar TKR/Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia. Selanjutnya pada tanggal 18 Desember 1945, pangkat Jenderal diberikan padanya lewat pelantikan Presiden. Jadi ia memperoleh pangkat Jenderal tidak melalui Akademi Militer atau pendidikan tinggi lainnya sebagaimana lazimnya, tapi karena prestasinya.

Ketika pasukan sekutu datang ke Indonesia dengan alasan untuk melucuti tentara Jepang, ternyata tentara Belanda ikut dibonceng. Karenanya, TKR akhirnya terlibat pertempuran dengan tentara sekutu. Demikianlah pada Desember 1945, pasukan TKR yang dipimpin oleh Sudirman terlibat pertempuran melawan tentara Inggris di Ambarawa.

Dan pada tanggal 12 Desember tahun yang sama, dilancarkanlah serangan serentak terhadap semua kedudukan Inggris. Pertempuran yang berkobar selama lima hari itu akhirnya memaksa pasukan Inggris mengundurkan diri ke Semarang.

Pada saat pasukan Belanda kembali melakukan agresinya atau yang lebih dikenal dengan Agresi Militer II Belanda, Ibukota Negara RI berada di Yogyakarta sebab Kota Jakarta sebelumnya sudah dikuasai. Jenderal Sudirman yang saat itu berada di Yogyakarta sedang sakit. Keadaannya sangat lemah akibat paru-parunya yang hanya tingggal satu yang berfungsi.

Dalam Agresi Militer II Belanda itu, Yogyakarta pun kemudian berhasil dikuasai Belanda. Bung Karno dan Bung Hatta serta beberapa anggota kabinet juga sudah ditawan. Melihat keadaan itu, walaupun Presiden Soekarno sebelumnya telah menganjurkannya untuk tetap tinggal dalam kota untuk melakukan perawatan.

Namun anjuran itu tidak bisa dipenuhinya karena dorongan hatinya untuk melakukan perlawanan pada Belanda serta mengingat akan tanggungjawabnya sebagai pemimpin tentara.

Melakukan Perang Gerilya
Maka dengan ditandu, ia berangkat memimpin pasukan untuk melakukan perang gerilya. Kurang lebih selama tujuh bulan ia berpindah-pindah dari hutan yang satu ke hutan yang lain, dari gunung ke gunung dalam keadaan sakit dan lemah sekali sementara obat juga hampir-hampir tidak ada.

Tapi kepada pasukannya ia selalu memberi semangat dan petunjuk seakan dia sendiri tidak merasakan penyakitnya. Namun akhirnya ia harus pulang dari medan gerilya, ia tidak bisa lagi memimpin Angkatan Perang secara langsung, tapi pemikirannya selalu dibutuhkan.

Sudirman yang pada masa pendudukan Jepang menjadi anggota Badan Pengurus Makanan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Keresidenan Banyumas, ini pernah mendirikan koperasi untuk menolong rakyat dari bahaya kelaparan.

Jenderal yang mempunyai jiwa sosial yang tinggi, ini akhirnya harus meninggal pada usia yang masih relatif muda, 34 tahun. Pada tangal 29 Januari 1950, Panglima Besar ini meninggal dunia di Magelang dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta. Ia dinobatkan sebagai Pahlawan Pembela Kemerdekaan.

Sumber : http://www.biografiku.com/2009/02/biografi-jenderal-sudirman.html

Selasa, 22 Maret 2016

Profil dan Biografi Hoegeng "Sosok Pemimpin Panutan"

Tokoh Indonesia yang satu ini terkenal sebagai polisi yang jujur dan sederhana ditengah ketidakpercayaan masyarakat kepada institusi kepolisian. Berikut profil dan biografinya. Hoegeng Imam Santoso merupakan putra sulung dari pasangan Soekario Kario Hatmodjo dan Oemi Kalsoem. Beliau lahir pada 14 Oktober 1921 di Kota Pekalongan. Meskipun berasal dari keluarga Priyayi (ayahnya merupakan pegawai atau amtenaar Pemerintah Hindia Belanda), namun perilaku Hoegeng kecil sama sekali tidak menunjukkan kesombongan, bahkan ia banyak bergaul dengan anak-anak dari lingkungan biasa. Hoegeng sama sekali tidak pernah mempermasalahkan ningrat atau tidaknya seseorang dalam bergaul. Masa kecil Hoegeng diwarnai dengan kehidupan yang sederhana karena ayah Hoegeng tidak memiliki rumah dan tanah pribadi, karena itu ia seringkali berpindah-pindah rumah kontrakan.

Kehidupan Hoegeng Imam Santoso
 
Hoegeng kecil juga dididik dalam keluarga yang menekankan kedisiplinan dalam segala hal. Hoegeng mengenyam pendidikan dasarnya pada usia enam tahun pada tahun 1927 di Hollandsch Inlandsche School (HIS). Tamat dari HIS pada tahun 1934, ia memasuki Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), yaitu pendidikan menengah setingkat SMP di Pekalongan.


Pada tahun 1937 setelah lulus MULO, ia melanjutkan pendidikan ke Algemeene Middlebare School (AMS) pendidikan setingkat SMA di Yogyakarta. Pada saat bersekolah di AMS, bakatnya dalam bidang bahasa sangatlah menonjol. Ia juga dikenal sebagai pribadi yang suka bicara dan bergaul dengan siapa saja tanpa sungkan-sungkan dengan tidak mempedulikan ras atau bangsa apa.


Masuk Pendidikan dan Menjadi Kapolri
 
Kemudian pada tahun 1940, saat usianya menginjak 19 tahun, ia memilih melanjutkan kuliahnya di Recht Hoge School (RHS) di Batavia. Tahun 1950, Hoegeng mengikuti Kursus Orientasi di Provost Marshal General School pada Military Police School Port Gordon, George, Amerika Serikat. Dari situ, dia menjabat Kepala DPKN Kantor Polisi Jawa Timur di Surabaya (1952).


Lalu menjadi Kepala Bagian Reserse Kriminil Kantor Polisi Sumatera Utara (1956) di Medan. Tahun 1959, mengikuti pendidikan Pendidikan Brimob dan menjadi seorang Staf Direktorat II Mabes Kepolisian Negara (1960), Kepala Jawatan Imigrasi (1960), Menteri luran Negara (1965), dan menjadi Menteri Sekretaris Kabinet Inti tahun 1966.


Setelah Hoegeng pindah ke markas Kepolisian Negara kariernya terus menanjak. Di situ, dia menjabat Deputi Operasi Pangak (1966), dan Deputi Men/Pangak Urusan Operasi juga masih dalam 1966. Terakhir, pada 5 Mei 1968, Hoegeng diangkat menjadi Kepala Kepolisian Negara (tahun 1969, namanya kemudian berubah menjadi Kapolri), menggantikan Soetjipto Joedodihardjo.

Biografi Hoegeng
Banyak hal terjadi selama kepemimpinan Kapolri Hoegeng Iman Santoso. Pertama, Hoegeng melakukan pembenahan beberapa bidang yang menyangkut Struktur Organisasi di tingkat Mabes Polri. Hasilnya, struktur yang baru lebih terkesan lebih dinamis dan komunikatif. Kedua, adalah soal perubahan nama pimpinan polisi dan markas besarnya. Berdasarkan Keppres No.52 Tahun 1969, sebutan Panglima Angkatan Kepolisian RI (Pangak) diubah menjadi Kepala Kepolisian RI (Kapolri). Dengan begitu, nama Markas Besar Angkatan Kepolisian pun berubah menjadi Markas Besar Kepolisian (Mabak).


Perubahan itu membawa sejumlah konsekuensi untuk beberapa instansi yang berada di Kapolri. Misalnya, sebutan Panglima Daerah Kepolisian (Pangdak) menjadi Kepala Daerah Kepolisian RI atau Kadapol. Demikian pula sebutan Seskoak menjadi Seskopol. Di bawah kepemimpinan Hoegeng peran serta Polri dalam peta organisasi Polisi Internasional, International Criminal Police Organization (ICPO), semakin aktif. Hal itu ditandai dengan dibukanya Sekretariat National Central Bureau (NCB) Interpol di Jakarta.


Membongkar Kasus Besar
 
Selama ia menjabat sebagai kapolri ada dua kasus menggemparkan masyarakat. Pertama kasus Sum Kuning, yaitu pemerkosaan terhadap penjual telur, Sumarijem, yg diduga pelakunya anak-anak petinggi teras di Yogyakarta. Ironisnya, korban perkosaan malah dipenjara oleh polisi dengan tuduhan memberi keterangan palsu. Lalu merembet dianggap terlibat kegiatan ilegal PKI. Nuansa rekayasa semakin terang ketika persidangan digelar tertutup. Wartawan yg menulis kasus Sum harus berurusan dengan Dandim 096. Hoegeng kemudian bertindak.
....Kita tidak gentar menghadapi orang orang gede siapa pun. Kita hanya takut kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jadi, walaupun keluarga sendiri, kalau salah tetap kita tindak. Geraklah the sooner the better, tegas Hoegeng di halaman 95.
Kasus lainnya yg menghebohkan adalah penyelundupan mobil-mobil mewah bernilai miliaran rupiah oleh Robby Tjah jadi. Berkat jaminan, pengusaha ini hanya beberapa jam mendekam di tahanan Komdak. Sungguh berkua sanya si penjamin sampai Kejaksaan Jakarta Raya pun memetieskan kasus ini. Siapakah si penjamin itu? Tapi, Hoegeng tak gentar. Di kasus penyelundupan mobil mewah berikutnya, Robby tak berkutik. Pejabat yg terbukti menerima sogokan ditahan.

Rumor yg santer, gara-gara membongkar kasus ini pula yg menyebabkan Hoegeng di pensiunkan, 2 Oktober 1971 dari jabatan kapolri. Kasus ini ternyata melibatkan sejumlah pejabat dan perwira tinggi ABRI (hlm 118). Bayangan banyak orang, memasuki masa pensiun orang pertama di kepolisian pasti menyenangkan. Tinggal menikmati rumah mewah berikut isinya, kendaraan siap pakai. Semua itu diperoleh dari sogokan para pengusaha.


Kasus inilah yang kemudian santer diduga sebagai penyebab pencopotan Hoegeng oleh Presiden Soeharto. Hoegeng dipensiunkan oleh Presiden Soeharto pada usia 49 tahun, di saat ia sedang melakukan pembersihan di jajaran kepolisian. Kabar pencopotan itu diterima Hoegeng secara mendadak. Kemudian Hoegeng ditawarkan Soeharto untuk menjadi duta besar di sebuah Negara di Eropa, namun ia menolak. Alasannya karena ia seorang polisi dan bukan politisi.

....Begitu dipensiunkan, Bapak kemudian mengabarkan pada ibunya. Dan ibunya hanya berpesan, selesaikan tugas dengan kejujuran. Karena kita masih bisa makan nasi dengan garam,” ujar Roelani. “Dan kata-kata itulah yang menguatkan saya,” tambahnya.
Benhenti Menjadi Kapolri
 
Hoegeng diberhentikan dari jabatannya sebagai Kapolri pada 2 Oktober 1971, dan ia kemudian digantikan oleh Komisaris Jenderal Polisi Drs. Moh. Hasan. Pemberhentian Hoegeng dari jabatannya ini menyisakan sejumlah tanda tanya di antaranya karena masa jabatannya sebagai Kapolri saat itu belum habis.


Berbagai spekulasi muncul berkaitan dengan pemberhentiannya tersebut, antara lain dikarenakan figurnya terlalu populer dikalangan pers dan masyarakat. Selain itu ada pula yang menyebutkan bahwa ia diganti karena kebijaksanaannya tentang penggunaan helm yang dinilai sangat kontroversi.


Kesederhanaan Hoegeng Imam Santoso
 
Ternyata masa menyenangkan itu tidak berlaku bagi Hoegeng yg anti disogok. Pria yg pernah dinobatkan sebagai The Man of the Year 1970 ini pensiun tanpa memiliki rumah, kendaraan, maupun barang mewah. Rumah dinas menjadi milik Hoegeng atas pemberian dari Kepolisian. Beberapa kapolda patungan membeli mobil Kingswood, yg kemudian menjadi satu-satunya mobil yg ia miliki.


Pengabdian yg penuh dari Pak Hoegeng tentu membawa konsekuensi bagi hidupnya sehari-hari. Pernah dituturkannya sekali waktu, setelah berhenti dari Kepala Polri dan pensiunnya masih diproses, suatu waktu dia tidak tahu apa yg masih dapat dimakan oleh keluarga karena di rumah sudah kehabisan beras.


Hoegeng memang seorang yang sederhana, ia mengajarkan pada istri dan anak-anaknya arti disiplin dan kejujuran. Semua keluarga dilarang untuk menggunakan berbagai fasilitas sebagai anak seorang Kapolri.


“Bahkan anak-anak tak berani untuk meminta sebuah sepeda pun,” kata Merry.

Aditya, salah seorang putra Hoegeng bercerita, ketika sebuah perusahaan motor merek Lambretta mengirimkan dua buah motor, sang ayah segera meminta ajudannya untuk mengembalikan barang pemberian itu. “Padahal saya yang waktu itu masih muda sangat menginginkannya,” kenang Didit.

Saking jujurnya, Hoegeng baru memiliki rumah saat memasuki masa pensiun. Atas kebaikan Kapolri penggantinya, rumah dinas di kawasan Menteng Jakarta pusat pun menjadi milik keluarga Hoegeng. Tentu saja, mereka mengisi rumah itu, setelah seluruh perabot inventaris kantor ia kembalikan semuanya.


Memasuki masa pensiun Hoegeng menghabiskan waktu dengan menekuni hobinya sejak remaja, yakni bermain musik Hawaiian dan melukis. Lukisan itu lah yang kemudian menjadi sumber Hoegeng untuk membiayai keluarga. Karena harus anda ketahui, pensiunan Hoegeng hingga tahun 2001 hanya sebesar Rp.10.000 saja, itu pun hanya diterima sebesar Rp.7500!


Dalam acara Kick Andy, Aditya menunjukkan sebuah SK tentang perubahan gaji ayahnya pada tahun 2001, yang menyatakan perubahan gaji pensiunan seorang Jendral Hoegeng dari Rp. 10.000 menjadi Rp.1.170.000. Pada 14 Juli 2004, Hoegeng meninggal dunia di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta dalam usia yang ke 83 tahun. Ia meninggal karena penyakit stroke dan jantung yang dideritanya. Hoegeng mengisi waktu luang dengan hobi melukisnya.

Biografi Hoegeng Itulah sekadar beberapa catatan kenangan untuk Pak Hoegeng yg baru saja meninggalkan kita. Seorang yg hidupnya senantiasa jujur, seorang yg menjadi simbol bagi hidup jujur, dan simbol bagi kejujuran yg hidup.

Tak heran, Almarhum Gus Dur
pernah berkata,

...Di Indonesia ini hanya ada tiga polisi jujur, yakni polisi tidur, patung polisi, dan Hoegeng.
Itulah kisah inspiratif dari perjalanan hidup yang penuh dengan kejujuran dari seorang Hoegeng, semoga biografi Hoegeng  ini dapat bermanfaat bagi pembaca sekalian. Terima kasih.

Sumber : http://www.biografiku.com/2012/05/biografi-hoegeng-polisi-paling-jujur-di.html

KEPEMIMPINAN DEMOKRATIS

           Kepemimpinan adalah suatu bentuk dominasi yang didasari oleh kapabilitas/kemampuan pribadi, yaitu mampu mendorong dan mengajak oranglain untuk berbuat sesuatu guna mencapai tujuan bersama. Kepemimpinan tersebut juga berdasarkan pada (1) akseptansi/penerimaan oleh kelompok, dan (2) pemilikan keahlian khusus. Maka dalam iklim demokratis kita berkepentingan dengan kepemimpinan demokratis, demi pencapaian kesejahteraan dan kaedilan yang lebih merata.
 
            Namun kenyataan menunjukan, bahwa dalam masyarakat modern yang banyak menonjolkan individualisme sekarang banyak terdapat orang sangat ambisius, bahkan paling ambisius untuk muncul menjadi pemimpin demi kepentingan-kepentingan pribadi. Orang yangiklankan diri itu ( yang dengan segala upaya licik ingin menjabat kursi kepemimpinan ), biasanya adalah tipe orang yang sakit atau abnormal (yang korups, patologis, egoistis, tidak bertanggung jawab, criminal, sadis, dan lain-lain), itu jelass mencerminkan adanya masyarakat yangpas sakit. Dengan kata lain masyarakat yang sakit akan memproduksi pemimpin-pemimpin yang sakit atau abnormal. Dan sebaliknya, pemimpin-pemimpin yang sakit pasti akan memunculkan masyarakat yang sakit, yang dipenuhi banyak konflik, disorganisasi dan disfungsi sosial.


Pemimpin Demokratis
 
Pemimpin demokratis dapat digolongkan dalam:
  1. Pemimpin demokratis tulen, dan;
  2. Pemimpin demokratis palsu/pura-pura (pseudo-demokratis)
            Pemimpin demokratis tulen itu merupakan pembimbing yang baik bagi kelompoknya. Dia menyadari bahwa tugasnya ialah mengkoordinasikan pekerjaan dan tugas dari semua anggotanya dengan menekankan rasa tanggung jawab dan kerjasama yang baik kepada setiap anggota. Dia tahu, bahwa organisasi atau lembaga bukanlah masalah ”pribadi atau individual”, akan tetapi kekuatan organisasi terletak pada partisipasi aktif setiap anggota. Dia mau mendengarkan nasehat dan sugesti semua pihak dan mampu memanfaatkan keunggulan setiap orang seefektif mungkin pada saat-saat yang tepat. 
            Dia sadar, bahwa dia tidak mampu bekerja seorang diri. Karena itu dia perlu mendapatkan bantuan dari semua pihak. Dia memerlukan dukungan dan partisipasi dari bawahannya, perlu mendapaykan penghargaan dan dorongan dari atasan, dan butuh mendapatkan support/dukungan moril dari teman sejawat yang sederajat kedudukannya dengan dirinya. 
 
          Dengan demikian, organisasi yang dipimpinnya akan terus berjalan lancar sekalipundia tidak ada ditempat. Sebab otoritas sepenuhnya didelegasikan kebawah, sehingga semua orang merasa pasti dan aman, juga merasa senang menunaikan tugas-tugasnya.
 
            Sebaliknya pemimpin pseudo-demokratis pada umumnya mempunyai sifat-sifat sebagai berikut, dia memang berusaha untuk bersikap demokratis. Akan tetapi karena dia berkarakter lemah, merasa selalu bmbang dan tidak mempunyai pendirian, maka penampilannya tidak jauh berbeda dengn si ”baby autocrat” (otokrat bayi). Bedanya ialah pemimpin pseudo demokratis ini sifatnya lebih sentimentil. Dia sering merasa ”berdosa”  dan ingin bertobat. Dan pada saat-saat dia berhati lapang, dia menganggap semua orang sebagai ”orang sendiri/dalam”, dengan semboyan ”kita semua adalah satu keluarga besar yang bahagia”. Sedang pada saat-saat dia berhati buram, maka muncullah kemunafikan dan macam-macam sifat kelicikan.
 
            Pemimpin yang demokratis itu bisa berrfungsi sebagai katalisator yang bisa mempercepat proses-proses secara wajar, dan membantu pencapaian objek yang ingin dicapai dengan cara yang paling sesuai cocok dengan kondisi kelompok tersebut.
 
            Pada kepemimpinan yang otokratis, pemimpin memaksa rencananya tanpa berkonsultasi kepada kawan-kawannya, dan tidak pernah menjelaskan isi sepenuhnya dari rencananya. Dia mengkomandokan setiap langkah, tanpa menghiraukan sama sekali tata kerja yang paling sesuai dengan aspirasi kelompoknya, tidak memperhitungkan iklim emosional kelompok serta bentuk kerja kooperatif.
 
            Timbullah kemudian reaksi agresifitas yang ditujukan kepada pemimpin, atau di arahkan kepada kawan sekerja yang lemah (dalam posisi lemah). Bahkan tidak jarang mereka juga melontarkan agresifitas terhadap benda-benda mati, misalnya dengan jalan:
 
1)      merusak barang-barang milik organisasi;
2)      mengadakan sabotase;
3)      mencuri barang-barang, pesawat-pasawat, onderdil, dan lain-lain;
4)      munculnya apati total dari bawahan atau sanak buah;
5)      orang jadi suka membolos, tidak masuk kerja tanpa mengemukakan alasan yang wajar (absensiisme tinggi)
6)      orang dengan sengaja datang terlambat kekantor/dinas;
7)      meninggalkan tugas, desersi;
8)      bersikap acuh tak acuh, dan lain-lain.
 
          Maka agresivitas yang memuncak bisa menimbulkan pemogokan dan hira-hura. Sebaliknya, pemimpin demokratis biasanya dihormati dan dihargai. Dia dianggap sebagai simbol kebaikan dan ”orang sendiri”, karena ia bersedia bekerja sama dengan semua anggota kelompok. Pemimpin demokratis ini tidak berusaha menjadi majikan. Semua anggota kelompok selalu ingin bertemu muka dan bertukar pikiran dengan dirinya yang dianggap sangat simpatik. Semua prestasi kerjanya selalu dinilai dengan kriteria ”hasil kami bersama-sama”. Ringkasan bentuk-bentuk kesuksesan selalu diungkapkan dalam bentuk kerja sama atau bentuk kekemian. Hususnya superioritas kepemimpinan demokratis itu ialah kemempuan mengumpulkan banyak informassi dan kebijaksanaan dari semua anggota kelompok, dan bisa memanipulasi semua dengan efektif.
 
            Setiap kelompok sosial pasti memiliki pola tingkah laku yang sesuai dengan tipe kepemimpinan yang mengaturnya, dan pasti tidak bergantung pada sifat-sifat individual setiap anggota kelompok. Pada kepemimpinan demokratis, ada ditanamkan disiplin oleh kelompok itu sendiri dalam suasana yang demokratis. Sedang pada kepemimpinan yang otoraktis, disiplin pada umumnya dipaksakan oleh atasan, atau dipaksakan secara eksternal, biasanya disertai ancaman atau sanksi-sanksi tertentu. 
 
            Kepemimpinan yang demokratis itu dalam situasi yang normal, keadaannya lebih superior dari pada kepemimpinan laissez-faire dan otoriter. Sebab utamanya ialah:
 
  • orang bisa menghimpun dan memanfaatkan semua informasi dan kearifan dari semua anggota kelompok;
  • orang tidak menyandarkan diri pada kepandaian atau kemampuan pribadi pemimpin saja.
            Pada kepemimpinan yang otokratis, pertanggung jawaban sepenuhnya ada pada pemimpin. Sedang pada kepemimpinan demokratis, pertanggung jawaban ada di tangan seluruh anggota kelompok. Dan pada kepemimpinan laissez-faire, pertanggungjawaban didistribusikan kepada setiap anggota sebagai individu yang terpisah-pisah (singulir), dengan semboyan “setiap orang boleh berbuat semau sendiri”. Seterusnya, kepemimpinan yang otokratis dan demokratis, kedua-duanya memiliki garis kepemimpinan yang jelas. Sedang pada bentuk kepemirnpinan laissez-faire justru tidak terdapat garis kepemimpinan, sehingga cenderung mengarah pada kebebasan total dan kekacauan.
 
            Di bawah kepemimpinan demokratis pasti terdapat disiplin kerja dan ketepatan kerja yang jauh lebih tinggi daripada kedua tipe kepemimpinan lainnya. Sebab kelompok itu sendiri yang mendominir suasana, pada tekanan sosial serta kontrol sosial yang diberikan oleh setiap anggota kelompok kepada sesama kawan (anggota), memaksa semua individu untuk bertingkah laku sesuai dengan norma kelompok.
 
            Pada kepemimpinan laissez-faire, kontrol sosial hampir-hampir tidak ada. Sebaliknya pada kepemimpinan otokratis, hanya pemimpinlah yang berhak melaksanakan kekuasaan serta mendesakkan kontrol sosial. Maka semua tugas, baik yang sipil maupun militer yang betapapun berat dan berbahayanya, apabila dilaksanakan dengan semangat kooperatif dan memaksimalisasikan semua inisiatif serta inventivitas setiap orang di bawah kepemimpinan yang demokratis pastilah menumbuhkan semangat juang dan daya tempur yang tinggi menuju kepada kemenangan dan sukses. Pemimpin yang demokratis itu tidak menganggap diri sendiri sebagai superman dengan kemampuan-kemampuan superior, akan tetapi menganggap diri sendiri sebagai anggota biasa. Dia tidak pernah memberikan perintah tanpa menjelaskan pentingnya masalah, dan selalu menerangkan secara terinci semua detail pelaksanaannya. Juga mendiskusikan semua masalah dengan kelompoknya. Ia memperlakukan orang-orang yang dibawahinya sebagai co-workers atau sesama kawan kerja, dan tidak pernah menganggap mereka sebagai instrumen.
 
           lnformasi mengenai kemajuan onganisasi atau lembaga selalu diberikan, lalu dia menjelaskan rencana dan kemungkinan bagi perkembangan masa mendatang. Sehingga semua anggota mengetahui apa yang harus diperbuat setiap hari, dan untuk apa mereka melakukan semuanya. Dia bisa mendelegasikan otoritas, sehingga tidak ada seorang pun yang “onmisbaar” sifatnya (tidak boleh tidak ada). Dia juga bisa menciptakan iklim psikis yang memberikan sekunitas emosional, sehingga setiap orang dirangsang untuk bertingkah laku posirif dan jujur.
 
            Dalam kepemimpinan demokratis ada penekanan pada disiplin-diri, dari kelompok untuk kelompok. Maka delegasi otoritas dalam iklim demokratis itu bukan berarti hilangnya kekuasaan pemimpin, tetapi justru memperkuat Otoritas pemimpin yang didukung oleh semua anggota. Dan pemimpin bisa mengkristalisasikan pikiran serta aspirasi dari semua anggota kelompok dalam perbuatan nyata. Semua permasalahan dihadapi dan dipecahkan secara bersama-sama. Ia juga mengutamakan kerja kooperatif untuk tujuan:
 
1) pemupukan gairah kerja,
2) peningkatan produktivitas,
3) peningkatan moral,
4) usaha perbaikan kondisi sosial pada umumnya
 
            Dengan demikian bisa dipahami, bahwa kepemimpinan demokratis itu pada umurnnya adalah lebih superior daripada kepemimpinan otokratis dan laissez-faire.
 
 
Kepemimpinan Demokratis
            Macam kepemimpinan yang baik dan yang sesuai dewasa ini ialah kepemimpinan demokratis. Semua guru di sekolah bekerja untuk mencapai tujuan bersama. Semua putusan diambil melalui musyawarah dan mufakat serta harus ditaati. Pemimpin menghormati dan menghargai pendapat tiap-tiap guru dan memberi kesempatan kepada guru-guru untuk mengembangkan inisiatif dan daya kreatifnya. Pemimpin mendorong guru-guru dalam hal mengembangkan keterampilannya bertalian dengan usaha-usaha mereka untuk mencoba suatu metode yang baru, misalnya metode yang akan mendatangkan manfaat bagi perkembangan pendidikan dan pengajaran di sekolah.
            Pemimpin demokratis tidak melaksanakan tugasnya sendiri, is bersifat bijaksana di dalam pembagian pekerjaan dan fanggung jawab. Dapat dikatakan bahwa tanggung jawab terletak pada pundak dewan guru seluruhnya, termasuk pemimpin sekolah.  bersifat ramah-tamah dan selalu bersedia menolong bawahannya dengan memberi nasihat, anjuran, serla petunjuk jika dibutuhkan. Ia menginginkan supaya guru-gurunya maju dan berusaha mencapai kesuksesan dalam usaha mereka masing-masing. Di dalam kepemimpinannya, ia berusaha supaya bawahannya kelak dapat menjalankan tugasnya sebagai peminipin.
            Banyak perhatiannya yang dicurahkan untuk tugas pendidikan dan pengajaran. Acara rapat dewan guru ditetapkan bersama guru dan rapat tersebut dilaksanakan secara teratur serta tidak memakan waktu banyak. Ia dapat membagi waktu untuk rapat dengan efisien dan kedisiplinan tampak sekali di dalamnya. Kepala sekolah lebih mengutamakan kepentingan guru dari pada kepentingan sendiri.
            Di bawah kepemimpinannya guru-guru bekerja dengan suka cita untuk memajukan pendidikan di sekolah. Semua pekerjaan dilaksanakan sesuai dengan rencana yang telah dipikirkan dan disepakati bersama. Akhirnya, terciptalah suasana kekeluargaan yang sehat dan menyenangkan. Pemimpin sekolah dianggap sebagai seorang bapak, saudara, atau kakak yang dapat menempatkan diri sesuai dengan kondisi dan keadaan Iingkungannya.
 
 
Model-model Kepemimpinan
 
a. Model Kepemimpinan Transaksional;
 
1. Pengertian
            Pemimpin Transaksional (Transactional Leaders) adalah pemimpin yang memandu atau memotivasi pengikut mereka dalam arah tujuan yang ditegakkan dengan memperjelas peran dan tuntunan tugas.
 
2. Dalam kepemimpinan transaksional, pemimpin menentukan apa yang perlu dikerjakan bawahan untuk rnencapai tujuan, mengklasifikasikan keperluan tersebut dan membantu bawahan menjadi percaya diri bahwa mereka dapat mencapai tujuan itu.
 
3. Karakteristik pemimpin transaksional:
 
a. Imbalan tergantung;
            Mengontrakkan pertukaran imbalan untuk upaya, menjanjikan imbalan untuk kinerja yang baik, mengakui prestasi.
 
b. Manajemen dengan pengecualian (aktif);
            Manajemen berdasarkan prinsip pengecualian ( management by exception / MBE), dimana menjaga dan mencari penyimpangan dan aturan dan standar (penyimpangan sisdur), dan mengambil tindakan koreksi.
 
c. Manajemen dengan pengecualian (pasif); Hanya ikut campur jika standar tidak dipenuhi.
 
d. Laissez Faire; Melepaskan tanggung jawab, menghindari pengambilan keputusan.
 
 
b. Model Kepemimpinan Transformasional
 
1. Pengertian:
            Pemimpin Tranformasional (Transformational Leaders) adalah pemimpin yang memberikan pertimbangan dan rangsangan intelektual yang diindividualkan pada para bawahan atau pengikut.
 
2. Dalam kepemimpinan Transformasional:
            a. Pemimpin yang mengilhami para pengikut untuk lebih mementingkan kepentingan diri mereka sendiri demi kebaikan organisasi, dan yang mampu memberikan efek yang mencolok dan luar biasa pada diri pengikutnya.
 
            b. Pemimpin yang lewat visi dan energi pribadi, memberi inspirasi para pengikutnya dan mempunyai dampak besar pada organisasi.
 
3. Karakteristik Pernimpin Tranformasional:
 
   a. Karisma; Memberikan visi dan misi, menanamkan kebanggaan, memperoleh respek dan kepercayaan.
 
    b. Inspirasi; Mengkomunikasikan harapan yang tinggi, rnenggunakan lambang-lambang untuk memfokuskan upaya, mengungkapkan maksud-maksud penting dalam cara yang sederhana.
 
     c. Ransangan Intelektual; Menggalakkan kecerdasan, rasionalitas, dan pemecahan masalah yang teliti.
 
     d. Pertimbangan yang diindividualkan; Memberikan perhatian pribadi, mempelakukan tiap karyawan secara individual, melatih, menasehati.
 
4. Dalam penelitian rnenunjukkan bukti yang mendukung keunggulan kepemimpinan transformasional terhadap varietas kepemimpinan transaksional luar biasa mengesankan. Secara keseluruhan menunjukkan bahwa dibandingkan dengan kepemimpinan transaksional, maka kepemimpinan transformasional lebih erat dengan tingkat keluarnya karyawan yang rendah, produktivitas yang tinggi, dan kepuasan karyawan yang lebih besar.
 
 
Sumber : http://rasyidalmurtadlo.blogspot.co.id/2012/07/kepemimpinan-demokratis.html